Backsound: the GazettE - 13STAIRS [-] 1
Mood: Extremely pissed off. Don’t touch me or I’ll explode like Nao LOL~
P.S. Ruki, happy birthday :3
Well, it’s all begins from a fanpage in Facebook.Call me butthurt. It’s okay. Maybe I am. Tapi ini semata karena saya gak suka penuturan sombong seperti yang ada di FP itu. Okelah dia maksudnya mulia. Mungkin dia gak mau nama cosplayer Indonesia tercemar karena ada cosplayer abal yang fotonya tersebar di dunia maya. Tapi cara dan namanya yang salah. Namanya seakan ‘mengglobalkan’ seluruh cosplayer di tanah air menjadi satu golongan seperti yang dia kritik. Itu yang pertama saya kurang suka dari page itu. Kemudian kedua, kritiknya bukan membangun, melainkan bikin mental drop.Bayangkanlah, nyaris semua foto cosplayer yang ia temukan di judge. Meski memang saya akui, dia judge nya jujur, baik ya baik, jelek ya jelek. Namun sebaik-baiknya maksud dia, bahasanya tetep nyelekit dan menyebutkan minimal satu kekurangan. Intinya dia seperti cari-cari detil apapun yang kurang baik di matanya.Ada yang berpikir saya ngomong kayak gini atas alasan yang banyak dikemukakan komentar-komentar di group tersebut yang menyebutkan “Mimin cosplayer bukan? Ga usah ngeritik kalo gak pernah cosplay langsung”. Bukan. Bukan itu alasan saya marah-marah sama FP ini. Karena saya tahu, orang tidak perlu sakit kanker untuk mengetahui gejala kanker. Semoga kalian mengerti maksud ungkapan itu.Yang bikin saya merasa sakit (baiklah, panggil saya butthurt, saya memang merasa tersinggung dengan page ini meski saya bukan cosplayer padahal para cosplayer yg kena bash adem2 saja :D) adalah, tidakkah dia mengenal kata pemula?Perhatikan. Saya ambil contoh dari salah satu akun deviantART favorit saya. User DA itu sudah terkenal dengan fanartnya yang berdetil halus dan sasuga sekali untuk kategori non mangaka Jepang asli. Jika kalian membongkar semua gambar yang dia submit sampai ke masa-masa awal dia membuka akun di DA, kalian akan menemukan sketsa-sketsa yang garisnya masih kaku, tebal-tipis kurang teratur, dan belum bisa dibilang ‘keren’ untuk sebuah fanart yang hebat sekelas karya-karyanya di masa sekarang yang sudah melanglang buana di dunia maya. Tapi seburuk apapun, ketika kita sudah mulai mencoba untuk melakukan sesuatu, bukankah kita ingin untuk dilihat dan diapresiasi? Kita butuh saran dan kritik, tapi bukan flame. Bukan bash. Kritik tidak sama dengan hinaan, admin page itu sendiri yang bilang sendiri. Tapi nyaris semua kritik yang dia post terbaca seperti hinaan halus.Maksud saya, makhluk hidup itu punya dua hal yang pasti: bertumbuh dan berkembang. Tak ada yang instan langsung jadi sehebat dan sekokoh dirinya di masa ini. Makhluk hidup bukan mie instan yang tinggal seduh langsung jadi. Oh maaf, bahkan untuk makan mie instan saja kita perlu merebus air, memasukkan mie, menunggu mie nya lunak, mengaduk bumbu, meniriskan mie, dan mencampurkan mie dengan bumbunya di atas piring.Jadi semua butuh proses. Saya mau tanya, apakah dia dulu ketika awal menjadi cosplayer yang saya sempat baca curhatan salah satu adminnya yang cosplayer (di antara semua admin di sana, hanya satu yang jadi cosplayer, lainnya mereka bilang hanya pengamat dan penikmat :v), tersebutlah katanya admin T, dia masuk di komunitas yang keras, ditempa (serius, dia benar-benar nulis ditempa) oleh kakaknya, berkelana (ini juga dia sendiri nulis berkelana) mencari tukang jahit dan tukang kayu, bikin kostum sendiri, gak kayak cosplayer sekarang yang tinggal beli. Apakah waktu itu cosplaymu langsung bisa disebut epic? Bisa tunjukin poto awal-awal cosplaymu dulu, kak? Sungguh, saya bener-bener penasaran wkwkwk.Kemudian, banyak teman-teman saya yg cosplayer merasa terusik dengan beberapa post di FP ini. Dari dulu empati saya besar. Terlalu besar malah, sampe-sampe saya bisa dipanggil kepo dan yang terakhir ini saya mengaku saya termasuk kaum butthurt xDSaya gak tega sama mereka. Mereka beli kostum pake uang meski tadi yang katanya kostum tinggal beli. Emang itu kostum tinggal beli duitnya nadah dari mimin-mimin di sono? Nggak, ‘kan? Jadi yang jelas, saya ikut sedih, merasa gak dihargai, merasa ‘yang boleh cosplay itu cuma orang-orang yang propertinya udah lengkap dan detil’. Sebelum ini saya selalu pengen jadi seorang cosplayer. Bahkan beberapa kali sebelum ini saya dateng ke event Jejepangan pake wig, seifuku atau baju-baju ngasal macem cheongsam, lalu semacem coat yang sering dipake remaja-remaja Jepang/Korea, dan bermake up, istilahnya nyampah. Bener, saya selalu bilang ‘cuma nyampah’ selama dateng event pake pakaian kayak gitu. Dulu awal-awalnya saya sempet bilang cosplay ori, tapi saya sadar, gak ada yang namanya ori dalam cosplay, karena cosplay sendiri itu kegiatan menirukan suatu chara kesukaan cosplayer yang bersangkutan. Dan apa? Ketika saya kepo di FP ini, sekarang niat saya untuk jadi seorang cosplayer langsung hilang tak bersisa. Saya takut di bash. Seperti yang tertera di cover picture FP yg saya singgung-singgung ini, bila takut dikritik tak usah berbuat apa-apa. Nah, karena saya merasa hati saya tak sekeras batu karang di tepian pantai (halah) bila suatu saat dikritik seperti itu, saya batalkan semua niat saya untuk menjadi seorang cosplayer. Biar, gak usah cosplay gapapa. Yang penting hidup saya damai wkwkwk. Sekali lagi, saya memang butthurt nan pengecut. Jangan berteman sama saya. Gak apa-apa. Kaum butthurt memang menyebalkan kok, saya paham wkwkwk xDBuat para admin FP yang saya sebutkan disini, lanjutkan eksekusi kalian. Tumpaslah cosplayer-cosplayer alay sekaligus bibit-bibit cosplayer yang jadi lari terbirit-birit menghilangkan keinginan cosplaynya karena semua komentar kalian yang bikin para butthurt terusik :3Sincerely,Salah satu kaum butthurt yg cuma berani ngomong belakang :3Hana desu. Yorosh~ :’DSasai Hana ♪